Jumat, 23 Oktober 2009

Pengalaman Partus

Tentang Pengalaman Saya…..Melahirkan    
 Khawatir…. Itulah yang saya rasakan ketika tgl perkiraan kelahiran anak yang 
saya tunggu-tunggu sudah lewat. Mungkin karena ini pengalaman pertama, perasaan 
saya & suami campur aduk. Apalagi ketika di USG oleh Bapak K. Suheimi, beliau 
bilang air ketubannya sudah mulai keruh, jadi kalau saya mau melahirkan 
sekarang walau kontraksi belum ada, itu bisa saja dilakukan. Tapi itu tidak 
saya lakukan, karena orang tua saya berpendapat tunggu saja waktunya. Ya.. 
mungkin sebagai anak yang baik atau  mungkin ingin semua berjalan sesuai 
waktunya, saya tetap menunggu waktu itu tiba. 
   
  Tapi, 10 hari berlalu dari tanggal perkiraan, tetap saja tidak ada 
tanda-tanda akan melahirkan. Karena itu tanpa pikir panjang, sore itu tepatnya 
tanggal 29 Juni 2007 saya berkonsultasi ke sebuah klinik bidan terdekat 
kebetulan saya juga peserta jamsostek di klinik tersebut. Setelah diperiksa, 
sang bidan memberikan saya sebuah suntikan yang sedikit perih, saya kurang tahu 
persis suntikan apa itu. Yang jelas, malamnya saya merasakan sakit yang kata 
orang tua saya berarti kontraksi sudah mulai. Saya bahagia sekali, karena itu 
berarti waktu untuk bertemu buah hati saya semakin dekat. Ya.. katanya sih 
mungkin kira-kira 6 jam lagi. Saya nikmati sakit tersebut, saya membayangkan 
tubuh mungil itu sedang berusaha keras untuk bertemu ibunya yang selama ini 
mungkin hanya dia kenal melalui suara atau degup jantung. Sampai keesokan hari 
rasa sakitnya tetap sama, dan jam 10.00 WIB (sabtu, 30 Juni 2007) saya melihat 
bercak darah di celana. ”oooh berarti waktunya semakin dekat” pikir
 saya. Namun sampai sorenya sakitnya semakin berkurang, bahkan saya tidak 
merasakan sakit lagi.
   
  Sorenya saya kembali menemui bidan itu, beliau juga heran dan setelah 
diperiksa ternyata saya masih pembukaan dua. Kemudian memutuskan kembali 
memberikan saya sebuah suntikan. Dan benar saja habis magrib saya merasakan 
sakit seperti kemarin, tapi kali ini sakitnya melebih sakit yang kemarin. 
Anehnya sakitnya terasa di sekitar paha, setiap kali kontraksi, sakitnya terasa 
menjalar ke paha... dan itu sakit sekali sampai saya tidak bisa berdiri. 
Akhirnya sekitar jam 20.00 saya kembali ke klinik itu, dan setelah diperiksa 
ternyata masih juga pembukaan 2, lalu saya disuruh pulang karena akan ada 
sekitar 7 atau 8 pintu lagi. Sampai dirumah sakitnya semakin menjadi-jadi, 
sakit sekali ... sampai-sampai daerah paha yang sakit itu saya pukul2. 
orang-orang disekitar saya heran, kenapa paha yang sakit biasanya daerah perut 
atau pinggul. 
   
  Jam 01.00 dini hari (minggu, 01 Juli 2007) , saya kembali ke klinik, 
bayangkan ditengah rasa sakit yang menjadi, saya bermotor ria ke situ. Tapi 
sampai di klinik sepertinya si bidan & perawat2nya juga kebingungan, kenapa 
daerah paha menimbul sakit yang hebat... namun mereka juga tidak berbuat 
apa-apa, saya hanya disuruh istirahat. 
   
  Tidak tahan melihat penderitaan saya, akhirnya suami minta agar saya dirujuk 
saja, dan itu diterima baik oleh si Bidan. Beliau menawarkan dua buah rumah 
sakit yang tanggungan jamsostek, saya meminta sebuah rumah sakit swasta tapi 
ternyata dokternya tidak ada, kemudian setelah diskusi dengan suami kami 
memutuskan untuk minta dirujuk ke Rumah Sakit Bersalin Bunda di Gunung Pangilun 
pimpinan Bapak Suheimi. Karena memang sebelumnya saya cek/konsultasi kehamilan 
rutin dengan beliau. 
   
  Sesampai di RSB Bunda saya merasa lega sekali karena para perawat termasuk 
Bapak Suheimi dengan sigap dan cepat melakukan berbagai tindakan pertolongan, 
hanya sekitar 5 menit sakit di paha itu langsung hilang. Sekarang yang saya 
rasakan adalah sakitnya kontraksi, dan tahukah anda .... ternyata sakit 
kontraksi itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang saya alami sebelumnya. 
Tapi sepertinya saya sudah kehabisan tenaga, bayangkan dari hari Jumat saya 
tidak tidur sama sekali, dan juga tidak bisa buang air karena terjadi 
penyempitan... (jadi supaya kandung kemih saya nggak penuh saya nggak minum 
banyak). 
   
  Sekarang saya takut, takut sekali... bisakah saya bertemu dengan bayi saya 
secepatnya???,. Saya juga merasa kasihan dengan dia, pasti dia sedang bersusah 
payah untuk keluar, tapi tidak juga berhasil. Saya hanya berdoa, dan terus 
berdoa agar Allah memberikan saya hati yang ikhlas. Saya minta ampun sama 
suami, orang tua, mertua dan tentu saja kepada Allah. 
   
  Hari semakin pagi, sayup-sayup saya mendengar azan Subuh, tapi kata  Pak 
Suheimi pembukaan saya masih 4. Dengan penuh kelembutan, beliau menatap mata 
saya, seperti mengatakan bahwa beliau dapat merasakan apa yang saya rasakan. 
Mungkin beliau juga melihat sepercik rasa sesal di mata saya.  Saya hanya 
tersenyum, dan sambil mengusap tangan saya beliau berkata, ”kalau yanti bisa 
tersenyum seperti itu, berarti yanti masih kuat untuk melahirkan secara normal. 
Jangan putus asa ya, yanti pasti bisa. Yanti orangnya kuat... Bapak yakin itu”.
   
  Ibu Zuratias juga ikut memberikan semangat, menuntun saya bagaimana 
melahirkan normal dan memberikan keterangan bahwa pada dasarnya banyak 
kelebihan yang kita peroleh jika kita dapat melahirkan secara normal. Tapi 
ibu-ibu zaman sekarang banyak yang tidak kuat merasakan sakit melahirkan , jadi 
merasa nggak kuat langsung minta dicaesar aja.
   
   
  Dan benar saja... setelah mendengar motivasi itu, ditambah lagi saat saya 
melihat kereta bayi didorong oleh seorang suster ke dekat saya, semangat saya 
semakin menjadi-jadi, sepertinya saya mendapatkan semangat baru. Saya 
membayangkan sebentar lagi bayi saya akan tidur di kereta itu, sebentar lagi 
saya akan mendengarkan tangisan nya. ”Allahu Akbar.. Allahu Akbar... Allahu 
Akbar.... mudahkan ya Rahmah”, jerit saya dalam hati.
   
  Sekitar jam tujuh pagi minggu 01 Juli 2007, kontraksi saya kian hebat. Kata 
Pak Suheimi pembukaan sudah sempurna, sekarang saya tinggal mengejan dengan 
baik. Setelah meneguk segelas teh hangat, entah itu gelas teh yang keberapa, 
saya mengejan dengan sekuatnya, tapi gagal.... Entah berapa kali saya mengejan, 
yang jelas tepat jam 08.15 WIB, saat yang saya tunggu-tunggu datang juga. 
Seorang bayi perempuan yang cantik dengan berat 3.2 kg, dan panjang 51 cm 
berhasil saya lahirkan secara normal. tangisannya menghilangkan semua rasa 
sakit, mulai dari awal kehamilan sampai saat yang menegangkan itu. Setelah tali 
pusernya dipotong, Pak Suheimi langsung menciumkan bayi itu ke wajah saya. Saya 
bahagia sekali, mungkin ini peristiwa yang paling istimewa selama hidup saya.  
Saya bahagia, bayi saya sehat.
   
  Tapi saya juga sempat protes sama pak Suheimi soal berat bayi saya, karena 
waktu di USG seminggu sebelum melahirkan, beliau bilang bayi saya kecil, paling 
sekitar 2.8 Kg tapi sekarang kok 3.2 kg. Menanggapi protes saya itu beliau 
hanya tersenyum dan berkata ”Bapak sengaja tidak memberitahukan berat bayi yang 
sebenarnya, karena takut kalau hal itu akan membuat kamu stress dan tidak mau 
melahirkan secara normal”. 
   
  Terimakasih pak, terimakasih ibu Zuratias.... terimakasih banyak. Termasuk 
juga perawat-perawat RSB Bunda  yang selalu tersenyum ikhlas.
   
  Saya sengaja memberikan tulisan ini, sebagai ucapan terimakasih saya kepada 
Pak Suheimi. Juga untuk meluruskan adanya pameo ”kalau melahirkan dengan dokter 
kandungan, pasti akan dicaesar/dicesar”. Saya yakin itu bersifat ”depend on 
situation”. Bisa jadi permintaan si Ibu sendiri untuk melahirkan caesar karena 
tidak kuat menahan sakit, atau bisa jadi karena faktor penyulitan. Karena dari 
apa yang saya lihat selama di RSB Bunda, kebanyakan pasien yang melahirkan 
caesar , memang karena mengalami penyulitan, dan ikebanyakan kiriman dari 
bidan. Ya... contohnya seperti saya, ketika bidan itu tidak sanggup menangani 
lebih lanjut, maka tindakan yang dilakukan adalah dengan merujuk ke dokter 
kandungan. Padahal saat itu, tenaga tenaga si ibu sudah habis...
   
  Sekali lagi terimakasih pak Suheimi, terimakasih ibu Zuratias... teruslah 
menjadi ”pagar bagus dan pagar ayu” bagi ”tamu-tamu kecil” kita itu.
   
  Wassalam.... 
   
  Tulisan ini dapat dilihat di Website WWW.ksuheimi.blogspot.com