Tentang Pengalaman Saya…..Melahirkan
Khawatir…. Itulah yang saya rasakan ketika tgl perkiraan kelahiran anak yang
saya tunggu-tunggu sudah lewat. Mungkin karena ini pengalaman pertama, perasaan
saya & suami campur aduk. Apalagi ketika di USG oleh Bapak K. Suheimi, beliau
bilang air ketubannya sudah mulai keruh, jadi kalau saya mau melahirkan
sekarang walau kontraksi belum ada, itu bisa saja dilakukan. Tapi itu tidak
saya lakukan, karena orang tua saya berpendapat tunggu saja waktunya. Ya..
mungkin sebagai anak yang baik atau mungkin ingin semua berjalan sesuai
waktunya, saya tetap menunggu waktu itu tiba.
Tapi, 10 hari berlalu dari tanggal perkiraan, tetap saja tidak ada
tanda-tanda akan melahirkan. Karena itu tanpa pikir panjang, sore itu tepatnya
tanggal 29 Juni 2007 saya berkonsultasi ke sebuah klinik bidan terdekat
kebetulan saya juga peserta jamsostek di klinik tersebut. Setelah diperiksa,
sang bidan memberikan saya sebuah suntikan yang sedikit perih, saya kurang tahu
persis suntikan apa itu. Yang jelas, malamnya saya merasakan sakit yang kata
orang tua saya berarti kontraksi sudah mulai. Saya bahagia sekali, karena itu
berarti waktu untuk bertemu buah hati saya semakin dekat. Ya.. katanya sih
mungkin kira-kira 6 jam lagi. Saya nikmati sakit tersebut, saya membayangkan
tubuh mungil itu sedang berusaha keras untuk bertemu ibunya yang selama ini
mungkin hanya dia kenal melalui suara atau degup jantung. Sampai keesokan hari
rasa sakitnya tetap sama, dan jam 10.00 WIB (sabtu, 30 Juni 2007) saya melihat
bercak darah di celana. ”oooh berarti waktunya semakin dekat” pikir
saya. Namun sampai sorenya sakitnya semakin berkurang, bahkan saya tidak
merasakan sakit lagi.
Sorenya saya kembali menemui bidan itu, beliau juga heran dan setelah
diperiksa ternyata saya masih pembukaan dua. Kemudian memutuskan kembali
memberikan saya sebuah suntikan. Dan benar saja habis magrib saya merasakan
sakit seperti kemarin, tapi kali ini sakitnya melebih sakit yang kemarin.
Anehnya sakitnya terasa di sekitar paha, setiap kali kontraksi, sakitnya terasa
menjalar ke paha... dan itu sakit sekali sampai saya tidak bisa berdiri.
Akhirnya sekitar jam 20.00 saya kembali ke klinik itu, dan setelah diperiksa
ternyata masih juga pembukaan 2, lalu saya disuruh pulang karena akan ada
sekitar 7 atau 8 pintu lagi. Sampai dirumah sakitnya semakin menjadi-jadi,
sakit sekali ... sampai-sampai daerah paha yang sakit itu saya pukul2.
orang-orang disekitar saya heran, kenapa paha yang sakit biasanya daerah perut
atau pinggul.
Jam 01.00 dini hari (minggu, 01 Juli 2007) , saya kembali ke klinik,
bayangkan ditengah rasa sakit yang menjadi, saya bermotor ria ke situ. Tapi
sampai di klinik sepertinya si bidan & perawat2nya juga kebingungan, kenapa
daerah paha menimbul sakit yang hebat... namun mereka juga tidak berbuat
apa-apa, saya hanya disuruh istirahat.
Tidak tahan melihat penderitaan saya, akhirnya suami minta agar saya dirujuk
saja, dan itu diterima baik oleh si Bidan. Beliau menawarkan dua buah rumah
sakit yang tanggungan jamsostek, saya meminta sebuah rumah sakit swasta tapi
ternyata dokternya tidak ada, kemudian setelah diskusi dengan suami kami
memutuskan untuk minta dirujuk ke Rumah Sakit Bersalin Bunda di Gunung Pangilun
pimpinan Bapak Suheimi. Karena memang sebelumnya saya cek/konsultasi kehamilan
rutin dengan beliau.
Sesampai di RSB Bunda saya merasa lega sekali karena para perawat termasuk
Bapak Suheimi dengan sigap dan cepat melakukan berbagai tindakan pertolongan,
hanya sekitar 5 menit sakit di paha itu langsung hilang. Sekarang yang saya
rasakan adalah sakitnya kontraksi, dan tahukah anda .... ternyata sakit
kontraksi itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang saya alami sebelumnya.
Tapi sepertinya saya sudah kehabisan tenaga, bayangkan dari hari Jumat saya
tidak tidur sama sekali, dan juga tidak bisa buang air karena terjadi
penyempitan... (jadi supaya kandung kemih saya nggak penuh saya nggak minum
banyak).
Sekarang saya takut, takut sekali... bisakah saya bertemu dengan bayi saya
secepatnya???,. Saya juga merasa kasihan dengan dia, pasti dia sedang bersusah
payah untuk keluar, tapi tidak juga berhasil. Saya hanya berdoa, dan terus
berdoa agar Allah memberikan saya hati yang ikhlas. Saya minta ampun sama
suami, orang tua, mertua dan tentu saja kepada Allah.
Hari semakin pagi, sayup-sayup saya mendengar azan Subuh, tapi kata Pak
Suheimi pembukaan saya masih 4. Dengan penuh kelembutan, beliau menatap mata
saya, seperti mengatakan bahwa beliau dapat merasakan apa yang saya rasakan.
Mungkin beliau juga melihat sepercik rasa sesal di mata saya. Saya hanya
tersenyum, dan sambil mengusap tangan saya beliau berkata, ”kalau yanti bisa
tersenyum seperti itu, berarti yanti masih kuat untuk melahirkan secara normal.
Jangan putus asa ya, yanti pasti bisa. Yanti orangnya kuat... Bapak yakin itu”.
Ibu Zuratias juga ikut memberikan semangat, menuntun saya bagaimana
melahirkan normal dan memberikan keterangan bahwa pada dasarnya banyak
kelebihan yang kita peroleh jika kita dapat melahirkan secara normal. Tapi
ibu-ibu zaman sekarang banyak yang tidak kuat merasakan sakit melahirkan , jadi
merasa nggak kuat langsung minta dicaesar aja.
Dan benar saja... setelah mendengar motivasi itu, ditambah lagi saat saya
melihat kereta bayi didorong oleh seorang suster ke dekat saya, semangat saya
semakin menjadi-jadi, sepertinya saya mendapatkan semangat baru. Saya
membayangkan sebentar lagi bayi saya akan tidur di kereta itu, sebentar lagi
saya akan mendengarkan tangisan nya. ”Allahu Akbar.. Allahu Akbar... Allahu
Akbar.... mudahkan ya Rahmah”, jerit saya dalam hati.
Sekitar jam tujuh pagi minggu 01 Juli 2007, kontraksi saya kian hebat. Kata
Pak Suheimi pembukaan sudah sempurna, sekarang saya tinggal mengejan dengan
baik. Setelah meneguk segelas teh hangat, entah itu gelas teh yang keberapa,
saya mengejan dengan sekuatnya, tapi gagal.... Entah berapa kali saya mengejan,
yang jelas tepat jam 08.15 WIB, saat yang saya tunggu-tunggu datang juga.
Seorang bayi perempuan yang cantik dengan berat 3.2 kg, dan panjang 51 cm
berhasil saya lahirkan secara normal. tangisannya menghilangkan semua rasa
sakit, mulai dari awal kehamilan sampai saat yang menegangkan itu. Setelah tali
pusernya dipotong, Pak Suheimi langsung menciumkan bayi itu ke wajah saya. Saya
bahagia sekali, mungkin ini peristiwa yang paling istimewa selama hidup saya.
Saya bahagia, bayi saya sehat.
Tapi saya juga sempat protes sama pak Suheimi soal berat bayi saya, karena
waktu di USG seminggu sebelum melahirkan, beliau bilang bayi saya kecil, paling
sekitar 2.8 Kg tapi sekarang kok 3.2 kg. Menanggapi protes saya itu beliau
hanya tersenyum dan berkata ”Bapak sengaja tidak memberitahukan berat bayi yang
sebenarnya, karena takut kalau hal itu akan membuat kamu stress dan tidak mau
melahirkan secara normal”.
Terimakasih pak, terimakasih ibu Zuratias.... terimakasih banyak. Termasuk
juga perawat-perawat RSB Bunda yang selalu tersenyum ikhlas.
Saya sengaja memberikan tulisan ini, sebagai ucapan terimakasih saya kepada
Pak Suheimi. Juga untuk meluruskan adanya pameo ”kalau melahirkan dengan dokter
kandungan, pasti akan dicaesar/dicesar”. Saya yakin itu bersifat ”depend on
situation”. Bisa jadi permintaan si Ibu sendiri untuk melahirkan caesar karena
tidak kuat menahan sakit, atau bisa jadi karena faktor penyulitan. Karena dari
apa yang saya lihat selama di RSB Bunda, kebanyakan pasien yang melahirkan
caesar , memang karena mengalami penyulitan, dan ikebanyakan kiriman dari
bidan. Ya... contohnya seperti saya, ketika bidan itu tidak sanggup menangani
lebih lanjut, maka tindakan yang dilakukan adalah dengan merujuk ke dokter
kandungan. Padahal saat itu, tenaga tenaga si ibu sudah habis...
Sekali lagi terimakasih pak Suheimi, terimakasih ibu Zuratias... teruslah
menjadi ”pagar bagus dan pagar ayu” bagi ”tamu-tamu kecil” kita itu.
Wassalam....
Tulisan ini dapat dilihat di Website WWW.ksuheimi.blogspot.com